Tim PKM-KI Pascasarjana IAIN Pontianak Berhasil Rancang Modul COMPASS, Integrasikan Character Building dengan Akhlaqul Karimah


PONTIANAK — Setelah melalui serangkaian proses perancangan dan pematangan materi, tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Karya Tulis Ilmiah (PKM-KI) Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana IAIN Pontianak, berhasil merancang modul pelatihan character building yang terintegrasi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah. Modul yang diberi nama COMPASS ini dipersiapkan sebagai panduan utama dalam kegiatan penguatan karakter generasi muda Muslim yang dijadwalkan berlangsung di SMKS Pancasila, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada 26 Oktober 2026. Mengusung semangat Be Better. Be a Better Muslim. Make an Impact., COMPASS diharapkan menjadi model pembelajaran karakter yang tidak hanya menekankan pemahaman nilai, tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui pengalaman belajar yang aktif dan reflektif.

Di balik penyusunan modul tersebut, terdapat empat mahasiswi semester III Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana IAIN Pontianak, yakni Dewi Purnama Sari, Nabilatun Nafilah, Wardatul Himmah Asy’ari, dan Yasmin Salmah. Keempatnya akan bertindak sebagai fasilitator, dengan Dewi Purnama Sari sebagai ketua kegiatan. Menariknya, materi yang dikembangkan memiliki keterkaitan dengan rencana penelitian tesis masing-masing. Gagasan akademik yang semula berada dalam kerangka kajian ilmiah tersebut diterjemahkan menjadi bahan pelatihan yang lebih sederhana, kontekstual, dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa sekolah menengah kejuruan.

Penyusunan modul COMPASS ini tidak terlepas dari pendampingan Syamsul Kurniawan, dosen Pascasarjana IAIN Pontianak yang juga merupakan Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai mentor kegiatan, Kurniawan mendampingi proses pematangan gagasan, pengembangan materi, serta pengintegrasian nilai-nilai akhlaqul karimah ke dalam pendekatan pembelajaran karakter yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Perhatian diarahkan pada bagaimana pendidikan Islam tidak berhenti sebagai pengetahuan normatif, melainkan hadir dalam pembentukan kejujuran, tanggung jawab, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan etika berkomunikasi. Melalui pendampingan tersebut, COMPASS dirancang tidak sekadar menjadi kumpulan materi pelatihan, tetapi menjadi panduan pembelajaran yang menghubungkan landasan keilmuan, pengalaman peserta, dan praktik nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Secara konseptual, COMPASS dikembangkan melalui tujuh dimensi utama, yakni C — Cerdas Mengenali Diri, O — Otentik dan Berintegritas, M — Mandiri Mengelola Emosi, P — Peduli dan Kolaboratif, A — Adaptif di Era Digital, S — Santun dalam Pergaulan, serta S — Siap Jadi Inspirasi. Ketujuh dimensi tersebut dirancang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Pengenalan diri menjadi titik awal pembentukan kesadaran personal, integritas menjadi fondasi moral, pengelolaan emosi memperkuat kedewasaan, sedangkan kepedulian dan kolaborasi membantu peserta membangun hubungan sosial yang sehat. Adapun kecakapan digital, kesantunan, dan keteladanan diarahkan untuk menumbuhkan tanggung jawab peserta dalam kehidupan nyata maupun ruang virtual.

Keunggulan rancangan modul ini terletak pada penggunaan pendekatan experiential character learning, yaitu pembelajaran karakter berbasis pengalaman. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya ditempatkan sebagai pendengar materi, tetapi juga sebagai peserta aktif yang diajak merefleksikan pengalaman, mendiskusikan persoalan, mempertimbangkan pilihan perilaku, dan merumuskan komitmen perubahan. Persoalan yang diangkat pun dekat dengan kehidupan remaja, seperti kesulitan mengendalikan emosi, tekanan dalam pergaulan, pentingnya menjaga kepercayaan, penghargaan terhadap perbedaan, serta penggunaan media sosial dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab. Nilai-nilai akhlaqul karimah dengan demikian diupayakan hadir sebagai pedoman praktis dalam menghadapi situasi yang benar-benar mungkin dialami peserta.

Pemilihan SMKS Pancasila di Desa Sungai Ambangah, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, memiliki relevansi tersendiri dengan orientasi program. Sekolah kejuruan swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum tersebut menjadi konteks yang menarik untuk mempertemukan pendidikan keterampilan dengan penguatan nilai-nilai keislaman. Siswa SMK berada pada fase penting dalam mempersiapkan masa depan, baik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun langsung memasuki dunia kerja. Pada fase tersebut, kompetensi teknis perlu didampingi kemampuan memimpin diri, menjaga integritas, bekerja sama, mengelola tekanan, serta mempertanggungjawabkan keputusan. Karena itu, COMPASS dirancang untuk memperkuat kesiapan mereka sebagai pribadi yang tidak hanya terampil, tetapi juga berakhlak dan memiliki kematangan sosial.

Bagi tim PKM-KI, proses penyusunan modul ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. Rencana penelitian tesis para fasilitator tidak diperlakukan sebagai materi teoritis yang harus disampaikan apa adanya, melainkan sebagai sumber gagasan yang perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta. Konsep-konsep ilmiah diterjemahkan menjadi bahasa yang lebih komunikatif serta aktivitas pembelajaran yang relevan dengan usia siswa. Melalui proses tersebut, para mahasiswi belajar bahwa kemampuan akademik tidak hanya terlihat dari penguasaan teori, tetapi juga dari kecakapan menghadirkan pengetahuan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Pengalaman pengabdian ini sekaligus diharapkan memperkaya kepekaan mereka terhadap persoalan pendidikan karakter di lapangan.

Ketua kegiatan, Dewi Purnama Sari, bersama Nabilatun Nafilah, Wardatul Himmah Asy’ari, dan Yasmin Salmah, menempatkan keterlibatan peserta sebagai perhatian penting dalam rancangan pelatihan. Modul COMPASS diharapkan dapat memandu fasilitator membangun suasana pembelajaran yang komunikatif, partisipatif, dan reflektif. Setiap dimensi karakter diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan pengalaman keseharian peserta sehingga pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menjelaskan konsep kejujuran, kesabaran, empati, atau tanggung jawab. Siswa diharapkan mampu mengenali perilaku yang perlu diperbaiki, memahami alasan pentingnya perubahan tersebut, serta menyusun langkah konkret yang dapat dilakukan setelah mengikuti kegiatan.

Lebih jauh, COMPASS membawa gagasan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak harus selalu ditandai oleh perubahan besar dalam waktu singkat. Kebiasaan sederhana seperti berkata jujur, mendengarkan pendapat orang lain, menahan diri ketika marah, bertanggung jawab terhadap tugas, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dapat menjadi titik awal pembentukan pribadi yang lebih matang. Bagi siswa yang kelak memasuki dunia kerja, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari etika profesional. Sementara bagi mereka yang melanjutkan pendidikan, nilai yang sama menjadi fondasi kemandirian dan tanggung jawab akademik. Pada akhirnya, kepemimpinan yang hendak ditumbuhkan COMPASS dimulai dari kemampuan setiap peserta untuk menjadi pemimpin yang baik bagi dirinya sendiri.

Dengan rampungnya rancangan modul COMPASS, tim PKM-KI Pascasarjana IAIN Pontianak kini memiliki landasan pembelajaran untuk memandu pelaksanaan kegiatan pada 26 Oktober 2026 mendatang. Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa SMKS Pancasila, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gagasan ilmiah mahasiswa pascasarjana dapat diterjemahkan menjadi kontribusi pendidikan yang relevan bagi masyarakat. Melalui integrasi character building dan akhlaqul karimah, COMPASS mengusung pesan bahwa masa depan generasi muda tidak cukup dipersiapkan melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan semata. Masa depan juga membutuhkan manusia yang mampu menjaga akhlak, memimpin dirinya sendiri, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.*