Di balik persiapan COMPASS, terdapat empat mahasiswi Pascasarjana IAIN Pontianak yang akan berperan sebagai fasilitator, yakni Dewi Purnama Sari, Nabilatun Nafilah, Wardatul Himmah Asy’ari, dan Yasmin Salmah, yang dimentori Syamsul Kurniawan.
Dewi Purnama Sari dipercaya sebagai ketua kegiatan. Bersama tiga rekannya, ia tengah mempersiapkan materi pelatihan yang dirancang berkaitan dengan rencana penelitian tesis masing-masing.
Menariknya, gagasan yang bersumber dari kajian akademik tersebut tidak akan disampaikan dalam bahasa ilmiah yang rumit. Materi justru disiapkan agar lebih membumi, sesuai usia, pengalaman, dan kebutuhan keseharian siswa SMK.
"Kami ingin ilmu yang dipelajari di bangku pascasarjana tidak hanya berhenti menjadi bahan diskusi akademik. Materi yang kami siapkan akan dihubungkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti mengenali potensi diri, mengelola emosi, menjaga pergaulan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab," demikian rancangan petikan penjelasan Dewi.
Menurutnya, peserta perlu diajak memahami bahwa karakter bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan, melainkan sesuatu yang harus dibiasakan melalui keputusan dan tindakan sehari-hari.
Karena itu, COMPASS dirancang menggunakan pendekatan experiential character learning, yaitu pembelajaran karakter berbasis pengalaman yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Nama COMPASS menjadi representasi tujuh dimensi penguatan karakter.
Dimensi tersebut terdiri atas Cerdas Mengenali Diri, Otentik dan Berintegritas, Mandiri Mengelola Emosi, Peduli dan Kolaboratif, Adaptif di Era Digital, Santun dalam Pergaulan, serta Siap Jadi Inspirasi.
Melalui ketujuh dimensi ini, siswa diharapkan lebih mampu memahami potensi dan keterbatasan diri, membangun kejujuran, mengendalikan emosi, serta menjalin hubungan sosial yang sehat.
Dimensi adaptif di era digital juga memberikan perhatian pada etika bermedia sosial, kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, dan tanggung jawab ketika menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Bagi Kurniawan, nilai-nilai tersebut tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam yang menempatkan akhlak sebagai bagian penting dalam pembentukan manusia.
"Kita tidak ingin generasi muda hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi kehilangan kepekaan moral. Mereka boleh maju dalam penguasaan teknologi, tetapi tetap harus memiliki pijakan nilai yang kuat. Kecerdasan dan akhlak seharusnya saling menguatkan," jelasnya dalam rancangan pernyataan.
Belum ada komentar.