Pontianak – Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menyelenggarakan kegiatan Studium Generale pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan tema “Aksara Nusantara sebagai Khazanah Studi Islam.” Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Abdul Mukti Ro’uf, M.Ag., Dosen Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Ahmad Fikri, AF, Direktur Penerbit LKIS sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya, Yogyakarta.

Ketua panitia, Dr. Hamzah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah berkenan hadir untuk berbagi ilmu dan wawasan. Ia juga mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan dosen yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas perspektif akademik dalam kajian keislaman.

Dalam sesi pertama, Dr. Abdul Mukti Ro’uf menyampaikan materi bertajuk “Membaca Islam Indonesia sebagai Perwujudan Historis dari Normatifitas Islam.” Ia menjelaskan bahwa Islam di Indonesia merupakan manifestasi historis dari ajaran Islam universal yang berinteraksi secara dinamis dengan konteks sosial dan budaya masyarakat. Tradisi keislaman Nusantara, karena itu, perlu dipahami sebagai hasil dialektika antara teks normatif agama dan realitas historis, bukan semata-mata dinilai sebagai bentuk penyimpangan dari praktik keislaman di kawasan lain.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami perkembangan Islam Nusantara, termasuk melalui perspektif sejarah, sosiologi pengetahuan, dan hermeneutika. Pesantren serta penerimaan Pancasila sebagai kesepakatan kebangsaan menjadi bagian penting dalam memahami kontribusi ulama terhadap pembentukan kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.

Sesi berikutnya menghadirkan Ahmad Fikri, AF, dengan materi “Turats: Sentrisme Versus Lokalitas (Sebuah Catatan Sederhana).” Ia mengajak peserta memperluas pemahaman tentang turats atau warisan intelektual Islam yang selama ini kerap dipusatkan pada karya-karya ulama Timur Tengah dan periode klasik.

Menurutnya, ulama Nusantara juga telah menghasilkan karya penting dalam bidang tafsir, fikih, teologi, dan pemikiran sosial-keagamaan. Karya-karya tersebut, termasuk yang ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu (Jawi), Pegon, dan aksara lokal lainnya, merupakan bagian dari kekayaan intelektual Islam yang perlu didokumentasikan, dikaji, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kegiatan Studium Generale ini, Pascasarjana IAIN Pontianak menegaskan pentingnya penguatan kajian Islam yang menghargai keragaman tradisi keilmuan. Aksara Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai media penulisan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, pemikiran, dan proses pembumian Islam di Indonesia. Dengan demikian, khazanah keislaman lokal diharapkan memperoleh ruang yang lebih luas dalam pendidikan dan penelitian Islam kontemporer.